- HAN 2026, Pemkot Bontang dan BAZNAS Beri Dukungan bagi 300 Anak
- Bimbingan Pra Nikah Remaja, Pemkot Bontang Dorong Pelajar Fokus Siapkan Masa Depan
- HUT ke-36 PW-BKAG Bontang, Agus Haris Dorong Perempuan Perkuat Pelayanan Sosial
- Pusdiklat Paskibraka Bontang Dimulai, Agus Haris Tekankan Pembentukan Karakter
- Harganas ke-33, Wali Kota Bontang Soroti Pentingnya Kehadiran Ayah dalam Keluarga
- Wali Kota Bontang Pastikan 11 Rekomendasi BPK Masih Dikawal hingga Tuntas
- 132 Mahasiswa KKN Kolaborasi Diterjunkan ke 15 Kelurahan di Bontang
- Pemkot Bontang Perkuat Perlindungan Pekerja Konstruksi Lewat BPJS Ketenagakerjaan
- Pemkot Bontang Gandeng Dunia Usaha Jaga Keberlanjutan Jaminan Kesehatan Gratis
- Digitalisasi Transaksi Daerah Bontang Capai 83,4 Persen, Pemkot Perkuat TP2DD
Dewan Kutim Pertanyakan Pembangunan Pabrik AMDK oleh PDAM TTB

Keterangan Gambar : Wakil Ketua I DPRD Kutim, Asti Mazar
ANALOGNEWS.id, KUTAI TIMUR - Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tuah Banua (TTB) baru-baru ini meresmikan pembangunan pabrik pengolahan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang terletak di Jalan Papa Charlie, Kabo, Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara.
Pabrik ini mengusung investasi sebesar Rp 7 miliar dan ditargetkan memproduksi 100 dus per hari untuk kemasan botol 330 milimeter serta 100 dus per hari untuk kemasan gelas 200 milimeter.
Namun, langkah ini memicu tanda tanya di kalangan DPRD Kutim. Wakil Ketua I DPRD Kutim, Asti Mazar, mempertanyakan urgensi proyek tersebut mengingat belum semua masyarakat di wilayah kecamatan menikmati layanan air bersih.
Baca Lainnya :
- PT BMA Diduga Beroperasi Diluar HGU, DPRD Kutim Akan Bawah ke Rana Hukum Jika Terbukti. 0
- DPRD Soroti Peran Inspektorat Kutim Usai Temuan BPK0
- Temuan BPK di Kutim, Dewan Minta Tindak Lanjut Pemerintah0
- Dewan Usulkan Kenaikan Gaji Petugas Pemadam Kebakaran Kutim0
- DPRD Kutim Setujui Pertanggungjawaban APBD 2023 dalam Rapat Paripurna0
Asti Mazar menyatakan bahwa PDAM TTB seharusnya memprioritaskan penyelesaian jaringan air bersih sebelum memulai investasi baru.
Hingga tahun 2022, cakupan layanan air bersih untuk wilayah perkotaan mencapai 91 persen, sementara untuk pedesaan baru mencapai 55,99 persen.
“Ada ketidakjelasan mengenai alasan di balik pembangunan pabrik ini. Kami seharusnya mendapatkan laporan resmi mengenai kegiatan semacam ini,” tegas Mazar. (Adv)

Views: 746










.jpg)
