- HAN 2026, Pemkot Bontang dan BAZNAS Beri Dukungan bagi 300 Anak
- Bimbingan Pra Nikah Remaja, Pemkot Bontang Dorong Pelajar Fokus Siapkan Masa Depan
- HUT ke-36 PW-BKAG Bontang, Agus Haris Dorong Perempuan Perkuat Pelayanan Sosial
- Pusdiklat Paskibraka Bontang Dimulai, Agus Haris Tekankan Pembentukan Karakter
- Harganas ke-33, Wali Kota Bontang Soroti Pentingnya Kehadiran Ayah dalam Keluarga
- Wali Kota Bontang Pastikan 11 Rekomendasi BPK Masih Dikawal hingga Tuntas
- 132 Mahasiswa KKN Kolaborasi Diterjunkan ke 15 Kelurahan di Bontang
- Pemkot Bontang Perkuat Perlindungan Pekerja Konstruksi Lewat BPJS Ketenagakerjaan
- Pemkot Bontang Gandeng Dunia Usaha Jaga Keberlanjutan Jaminan Kesehatan Gratis
- Digitalisasi Transaksi Daerah Bontang Capai 83,4 Persen, Pemkot Perkuat TP2DD
Sengketa Lahan di Samarinda Libatkan Keuskupan Agung, DPRD Kaltim Wanti-wanti Potensi Konflik Sosial

Keterangan Gambar : Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPRD Kaltim. (Foto: Humas DPRD Kaltim)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Sengketa kepemilikan lahan antara Hairil Usman dan Keuskupan Agung Samarinda di Jalan Damanhuri II, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, kini menjadi perhatian serius DPRD Kalimantan Timur (Kaltim). Kasus ini dinilai berpotensi memicu ketegangan sosial jika tidak ditangani dengan hati-hati.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPRD Kaltim pada Selasa, 10 Juni 2025, para legislator menegaskan pentingnya pendekatan netral dan mengedepankan musyawarah. Rapat dipimpin Wakil Ketua Komisi I, Agus Suwandy, dan dihadiri sejumlah anggota komisi, perangkat kecamatan, kelurahan, serta pihak pelapor, Hairil Usman dan kuasa hukumnya. Sayangnya, pihak Keuskupan Agung Samarinda tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
Agus Suwandy menekankan bahwa proses penyelesaian konflik ini harus menghindari eskalasi isu yang berpotensi menyentuh ranah sensitif seperti agama dan keyakinan.
Baca Lainnya :
- Kaltim Hadapi Krisis Daya Tampung SMA Negeri: DPRD Soroti Separuh Lulusan SMP Tak Tertampung0
- DPRD Kaltim Godok Tiga Ranperda Krusial: Reformasi BUMD dan Penguatan Perlindungan Lingkungan0
- Legislator Kaltim Soroti Kurangnya Antusiasme Pemda dalam Program Sekolah Rakyat Prabowo0
- DPRD Kaltim Matangkan Anggaran 2026, Sabaruddin Soroti Absennya Kepala Bapenda0
- Dugaan Malpraktik di Samarinda, Damayanti Desak Peningkatan Kompetensi dan Etika Tenaga Medis0
"Ini bukan soal siapa agamanya apa. Kita fokus pada status hukum tanah, bukan perbedaan keyakinan. Isu SARA sangat rentan memecah masyarakat," ujarnya tegas.
Agus juga menegaskan bahwa DPRD Kaltim berkomitmen untuk bersikap adil dan tidak memihak. Salah satu langkah penting ke depan adalah memanggil kembali pihak Keuskupan untuk memberikan klarifikasi terkait dokumen dan status kepemilikan lahan. Hal ini bertujuan untuk memastikan objek tanah yang disengketakan sesuai dengan dokumen yang ada di BPN.
"Kita ingin pastikan, jangan sampai dokumen kepemilikan mengacu pada satu lokasi, tapi objek fisiknya ternyata berada di tempat lain. Ini harus jelas," ungkap Agus.
Sengketa ini berawal dari penjualan tanah oleh Djagung Hanafiah, ayah Hairil Usman, kepada Dony Saridin pada tahun 1988. Namun, menurut Hairil, pembayaran belum tuntas. Sementara itu, luas tanah yang tercatat dalam SPPT atas nama Margareta, istri Dony, disebut mengalami perubahan signifikan sebelum dihibahkan kepada Keuskupan.
Meskipun konflik ini telah berlangsung lama, DPRD Kaltim berupaya mendorong penyelesaian yang tidak memicu ketegangan lebih jauh. Pendekatan hukum tetap diutamakan, namun jalur mediasi dan musyawarah menjadi pilihan utama untuk menjaga stabilitas sosial.
Sebagai tindak lanjut, Komisi I menjadwalkan RDP lanjutan pada Selasa, 17 Juni 2025, serta meminta camat dan lurah untuk melakukan penelusuran ulang terhadap dokumen tanah yang ada.
"Kita ingin penyelesaian yang berkeadilan dan damai. Jangan sampai perbedaan pandangan ini justru menimbulkan perpecahan. DPRD siap jadi fasilitator untuk menyatukan semua pihak," pungkas Agus Suwandy. (SRA/ADV/DPRDKALTIM)










.jpg)
