- HAN 2026, Pemkot Bontang dan BAZNAS Beri Dukungan bagi 300 Anak
- Bimbingan Pra Nikah Remaja, Pemkot Bontang Dorong Pelajar Fokus Siapkan Masa Depan
- HUT ke-36 PW-BKAG Bontang, Agus Haris Dorong Perempuan Perkuat Pelayanan Sosial
- Pusdiklat Paskibraka Bontang Dimulai, Agus Haris Tekankan Pembentukan Karakter
- Harganas ke-33, Wali Kota Bontang Soroti Pentingnya Kehadiran Ayah dalam Keluarga
- Wali Kota Bontang Pastikan 11 Rekomendasi BPK Masih Dikawal hingga Tuntas
- 132 Mahasiswa KKN Kolaborasi Diterjunkan ke 15 Kelurahan di Bontang
- Pemkot Bontang Perkuat Perlindungan Pekerja Konstruksi Lewat BPJS Ketenagakerjaan
- Pemkot Bontang Gandeng Dunia Usaha Jaga Keberlanjutan Jaminan Kesehatan Gratis
- Digitalisasi Transaksi Daerah Bontang Capai 83,4 Persen, Pemkot Perkuat TP2DD
Angka Pernikahan Usia Dini di Kaltim Tergolong Tinggi

Keterangan Gambar : Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Fitri Maisyaroh
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA - Kasus pernikahan dini bagi kalangan remaja dinilai cukup tinggi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Dalam satu tahun tercatat mencapai 1000 kasus.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Fitri Maisyaroh meminta Pemprov untuk menekan angka pernikahan dini tersebut. Sebab, rata-rata kasus dispensasi pernikahan atau upaya untuk menikah yang belum mencapai batas minimal usia disebabkan oleh remaja yang hamil di luar nikah.
“Setiap tahun di Kaltim tercatat sekitar 1.000 kasus. Lebih memprihatinkan lagi, mereka yang terjaring kasus itu sebagian masih berstatus pelajar,” ungkap Fitri Maisyaroh, Kamis (23/2/2023)
Baca Lainnya :
- Gubernur Tak Hadir, Pengesahan RTRW Kaltim Ditunda0
- Samarinda Bebas Tambang Tahun 2026 Dinilai Fundamental0
- Berkurangnya Jam Kerja Selama Ramadan, Wakil Dewan Kaltim Ingatkan Agar Tetap Produktif0
- Larangan Jual Baju Bekas Perlu Diiringi Solusi0
- Dewan Kaltim Sosialisasikan Perda Bantuan Hukum Gratis Untuk Masyarakat 0
Menurutnya, hal ini berkaitan dengan perkembangan jaman yang memberikan ruang kebebasan bergaul bagi kalangan remaja, sehingga membuat moral generasi muda semakin terdegradasi.
Ini juga menganggap itu akan menimbulkan potensi bertambahnya angka balita stunting di Kaltim, padahal Pemprov Kaltim tengah gencar menanggulangi peningkatan angka stunting.
“Penanggulangan stunting selain dengan upaya memenuhi gizi, pemerintah juga perlu mengatasi kasus pernikahan dini. Jadi upaya untuk menurunkan stunting tidak sekadar memenuhi gizi tetapi dilihat kesesuaiannya,” kata Fitri.
Fitri menganggap salah satu faktor tingginya kasus pernikahan usia dini diakibatkan karena minimnya kedekatan seorang putri dengan ayahnya. Hal tersebut sesuai hasil riset yang ia pelajari. Oleh karena itu, dirinya berpesan kepada setiap orang tua, khususnya ayah supaya dapat lebih memperhatikan putrinya dalam bergaul.
“Kalau dia dekat dengan ayahnya, mendapat kasih sayang, anak perempuannya akan mengukur laki-laki itu dengan ayahnya,” ucapnya. (Ar/Adv)










.jpg)
