- Turnamen Voli Putri Bontang Jadi Wadah Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
- Kapal Fiber dan Jaring Gillnet Disiapkan, DKP3 Bontang Dorong Produktivitas KUB Nelayan
- DKP3 Perkuat Pengawasan Distribusi MBG, Pastikan Makanan Aman hingga Diterima Siswa
- Pemkot Serahkan Penanganan Sengketa Kapal Roro ke Kejaksaan, Neni: Itu Aset Pemerintah
- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
Tantangan Literasi di Tengah Pesatnya Kemajuan Dunia Digital

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Andi Muhammad Adif Rayhan Harun. (Foto: HUMAS Sekretariat DPRD Kaltim)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Di tengah derasnya arus digitalisasi, dunia buku perlahan kehilangan tempatnya sebagai sumber utama pengetahuan. Generasi muda kini lebih akrab dengan layar daripada halaman, dengan informasi singkat dari media sosial yang kerap menggantikan kedalaman ilmu yang hanya bisa didapatkan melalui buku.
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Muhammad Afif Rayhan Harun. Politisi muda Partai Gerindra yang akrab disapa Afif ini mengungkapkan keprihatinannya atas merosotnya minat baca di kalangan generasi muda, yang menurutnya bisa berdampak pada kualitas generasi emas di masa depan.
“Saya melihat tantangan besar generasi muda saat ini adalah kurangnya minat baca. Mereka cenderung lebih memilih konsumsi cepat dari media sosial, yang sebenarnya hanya memberikan informasi permukaan,” ujar Afif dalam sebuah wawancara.
Baca Lainnya :
- Kalimantan Timur dan Tantangan Ketahanan Pangan di Era IKN0
- La Ode Nasir Perjuangkan Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan untuk Warga Balikpapan Barat0
- Gebyar Taat Pajak 2024, Menguatkan Kesadaran Warga Kaltim Akan Pajak0
- Yonavia, Penyambung Aspirasi Warga dari Pedalaman Kaltim0
- Dilema Sistem Zonasi, Antara Pemerataan Pendidikan dan Realitas di Daerah0
Menurutnya, media sosial, dengan format video pendek, reels, hingga podcast, memang menawarkan kemudahan akses informasi, tetapi tidak mampu menggantikan kedalaman yang hanya bisa diperoleh melalui membaca buku.
“Buku adalah sumber ilmu sejati. Bung Hatta pernah berkata, ‘Aku rela dipenjara asalkan bersama buku.’ Hal ini menegaskan pentingnya membaca untuk membuka wawasan,” tegasnya.
Afif juga menyoroti rendahnya literasi di Kalimantan Timur dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Ia menilai, jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi muda Kaltim akan semakin sulit bersaing di tingkat nasional maupun global.
“Di luar Kalimantan, minat baca generasi muda lebih tinggi. Kita tertinggal jauh. Jika tidak segera ada perbaikan, ini akan menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia di Kaltim,” katanya.
Namun, Afif menekankan bahwa literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis dan memahami informasi secara mendalam.
“Literasi yang rendah membuat kita lebih mudah terpengaruh hoaks dan informasi yang salah. Padahal, kemampuan berpikir kritis adalah kunci untuk menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, Afif mengajak berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, hingga keluarga, untuk bersama-sama memupuk kembali budaya membaca di tengah masyarakat. Ia menyarankan program-program literasi yang kreatif dan menarik bagi anak muda.
“Kita bisa membangun perpustakaan modern, menyediakan akses buku digital, atau mengadakan lomba literasi yang relevan dengan dunia anak muda. Membaca harus dibuat menyenangkan, bukan sebagai kewajiban,” ujar Afif.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membiasakan anak untuk mencintai buku sejak dini. “Keluarga adalah lingkungan pertama anak. Jika orang tua bisa memberikan contoh, anak-anak akan lebih mudah terbiasa dengan membaca,” tuturnya.
Afif berharap ada kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem literasi yang kuat di Kaltim.
“Ini adalah tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Semua harus bergerak bersama untuk mengembalikan budaya membaca,” tutupnya. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
