- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Perlahan, Petani PPU Mulai Tinggalkan Pola Lama: Edukasi dan Pendampingan Jadi Kunci

Keterangan Gambar : Anggota DPRD PPU, Sujiati. (*)
ANALOGNEWS.id, PPU – Upaya merombak kebiasaan lama petani di Penajam Paser Utara (PPU) bukanlah pekerjaan semalam. Namun, tanda-tanda perubahan mulai tampak di musim tanam kedua tahun ini, seiring dorongan edukasi dan pendampingan yang lebih terarah.
Anggota DPRD PPU, Sujiati, mengungkapkan sebagian kelompok tani sudah berani mencoba cara baru yang lebih efisien untuk mempersingkat jeda tanam. Ia menyebut ini sebagai tonggak awal pembaruan pola pikir yang selama puluhan tahun terjebak pada metode tradisional.
“Ini sedikit-sedikit sudah mulai berubah pola itu. Memang tidak bisa semudah membalikkan tangan untuk mengubah pola pikir petani,” ujarnya.
Baca Lainnya :
- Jalan Rusak di PPU: Ketika Status Aset Jadi Alasan, Warga Tetap Jadi Korban0
- Mantan THL PPU Terombang-ambing Sistem e-Catalog, DPRD: Mereka Bukan Barang Dagangan0
- Format Baru RPJMD Diterapkan, DPRD PPU Waspadai Risiko Penyederhanaan Isi0
- Aturan Baru RPJMD Berlaku, DPRD PPU Bergerak Cepat Menyisir Detail Regulasi0
- Di Tengah Ladang Sunyi, Petani Menunggu Kepastian: Haryono Soroti Sepinya Respons Pemerintah0
Menurut Sujiati, selama ini petani cenderung membiarkan lahan “beristirahat” hingga berbulan-bulan pascapanen, menunggu batang padi membusuk secara alami. Meskipun metode tersebut membantu menyuburkan tanah, prosesnya juga memakan waktu lama dan membuat petani kehilangan momentum tanam berikutnya.
“Kalau terus dibiarkan lama begitu, jeda tanam bisa terlalu panjang. Padahal sekarang tantangannya lebih besar,” katanya.
Kesadaran baru ini tidak muncul begitu saja. Ia menjelaskan, upaya mendorong percepatan pola tanam selalu diiringi edukasi teknis, demonstrasi lapangan, dan bantuan material pendukung.
“Makanya kita pelan-pelan beri pemahaman dan support, misalnya kapur pertanian dan anti jamur,” ujar Sujiati.
Kapur pertanian yang diberikan kepada petani bertujuan meningkatkan pH tanah, menekan potensi jamur patogen, sekaligus merangsang pertumbuhan tanaman lebih cepat. Sementara itu, penyediaan anti jamur menjadi bagian dari langkah preventif terhadap penyakit yang kerap muncul pada lahan intensif.
Menurutnya, cara ini membuat petani mulai percaya diri untuk tidak lagi menunda waktu tanam terlalu lama.
“Harapannya di musim tanam kedua ini bisa berhasil lebih baik, karena kita dampingi terus,” tambahnya.
Sujiati menekankan, transformasi kebiasaan kerja petani akan terus diupayakan agar mereka siap menghadapi tantangan modernisasi pertanian. Ia optimistis, dengan pendampingan konsisten, petani PPU bisa semakin adaptif dalam mengelola siklus tanam tanpa kehilangan prinsip menjaga kesuburan lahan.
“Yang penting jangan hanya imbauan. Pendekatannya harus nyata dan berkelanjutan,” tutupnya. (Adv)










.jpg)
