- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Jalan Rusak Singa Geweh: Ketika Masalah Kecil Menjadi Sorotan Besar

Keterangan Gambar : Angga Gilang Permadi, Pemuda Muara Ancalong.
Oleh: Angga Gilang Permadi, Pemuda Muara Ancalong
Kerusakan jalan selalu menjadi isu klasik di banyak wilayah Kutai Timur. Namun beberapa hari terakhir, perhatian publik tersedot pada protes warga Singa Geweh, Sangatta Selatan, yang menutup Jalan Pertanian dengan menanam pohon pisang di badan jalan. Aksi itu viral, diliput media, dan langsung mencuri fokus pemerintah.
Sebagai pemuda Muara Ancalong, saya justru melihat fenomena ini dengan rasa ganjil. Kerusakan di Singa Geweh sebenarnya kecil, pendek, dan relatif ringan, dibandingkan kerusakan panjang dan berat di wilayah pedalaman Kutim yang telah puluhan tahun menjadi masalah serius.
Baca Lainnya :
- Komisi III DPRD Samarinda Minta Penyesuaian Tarif Fokus pada Usaha Menengah ke Atas0
- Polemik Kompensasi Proyek Terowongan, DPRD Dorong Penyelesaian dalam Waktu Dekat0
- Akses Jalan Terhambat, DPRD Samarinda Usulkan Hibah Lahan sebagai Solusi0
- Finalisasi Raperda Ekraf Digelar, DPRD Samarinda Kumpulkan Masukan untuk Perbaikan Aturan0
- Minim Lapangan Kerja, DPRD Samarinda Ingatkan Ancaman Sosial dan Potensi Kriminal0
Lalu mengapa justru Singa Geweh yang menjadi sorotan besar?
Sorotan yang Tak Seimbang dengan Skala Kerusakan
Saya tidak menafikan keluhan warga RT 26 yang sudah sejak 2023 menunggu perbaikan. Lubang-lubang di Jalan Pertanian memang mengganggu aktivitas harian. Gotong royong dilakukan agar akses tidak lumpuh total. Itu wajar.
Namun jika dibandingkan dengan jalur di pedalaman—Muara Ancalong, Busang, Batu Ampar, Long Mesangat, Karangan—yang rusaknya kilometer demi kilometer, bahkan menghentikan distribusi logistik, maka kerusakan Singa Geweh jelas bukan yang terparah.
Tetapi mengapa pemberitaannya jauh lebih besar?
Pada titik ini, saya melihat ada ketimpangan sorotan, isu yang kecil bisa terlihat besar hanya karena dekat pusat kota.
Dekat Kota, Dekat Sorotan Media
Saya memahami bagaimana media bekerja. Singa Geweh lokasinya dekat, akses mudah, dokumentasi cepat, sinyal kuat, dan protes sekecil apa pun mudah viral.
Sebaliknya, keluhan warga pedalaman sering tidak terliput:
• perjalanan jauh dan mahal
• akses sulit
• sinyal hampir tidak ada
• tidak ada dokumentasi yang bisa viral
• protes warga tidak terekam kamera
Akibatnya, isu besar yang jauh dari kota menjadi sepi, sementara isu kecil yang dekat dengan akses media menjadi headline.
Sebagai anak daerah pedalaman, saya melihat ini sebagai ironi yang terus berulang.
Respons Pemerintah yang Dipengaruhi Tekanan Publik
Ini juga harus diakui, pemerintah sering bergerak cepat ketika sorotan publik besar. Ini bukan kritik personal, tetapi realitas pola respons yang umum terjadi di banyak daerah.
Masalahnya, ketika prioritas pembangunan ditentukan oleh siapa yang paling terlihat, bukan siapa yang paling membutuhkan, maka ketimpangan penanganan infrastruktur akan terus terjadi.
Protes Warga Singa Geweh: Wajar, Tapi Konteks Harus Dilihat Saya memahami aksi warga menanam pohon pisang. Dua tahun menunggu bukan waktu yang singkat. Mereka butuh perhatian. Itu hak mereka sebagai warga.
Namun di sisi lain, sebagai orang yang tumbuh di wilayah dengan kerusakan jalan yang jauh lebih parah, saya juga memahami kenapa publik menilai sorotan terhadap Singa Geweh terasa “berlebihan”. Ini bukan soal menyalahkan warga Singa Geweh. Ini soal bagaimana komunikasi pemerintah, distribusi perhatian media, dan persepsi publik membentuk narasi yang kadang tidak seimbang.
Perlu Peta Prioritas yang Berbasis Realitas Lapangan
Menurut saya, momentum ini harus menjadi pengingat penting bagi pemerintah Kutim.
• Infrastruktur tidak boleh ditangani berdasarkan viral atau tidaknya sebuah video.
• Prioritas harus ditentukan lewat kebutuhan objektif, bukan tekanan sorotan.
• Daerah kota dan pedalaman harus mendapatkan ruang yang sama untuk didengar.
Kerusakan kecil tetap perlu diperbaiki.
Kerusakan besar harus lebih diperhatikan.
Dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat harus diperbaiki agar suara pedalaman tidak selalu tenggelam.
Penutup
Sebagai pemuda Muara Ancalong, saya melihat kasus Singa Geweh sebagai gambaran bagaimana ukuran masalah sering ditentukan oleh seberapa terlihat ia di mata publik, bukan seberapa berat kenyataannya.
Sudah saatnya kita lebih jujur melihat realitas: bahwa masih banyak wilayah Kutai Timur yang membutuhkan perhatian jauh lebih serius tetapi tidak mendapatkan sorotan setara.
Dan di sinilah keberanian pemerintah diuji,
berani menata prioritas bukan karena tekanan, tetapi karena kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.










.jpg)
