- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Damayanti Soroti Minimnya Keterwakilan Perempuan di DPRD Kaltim 2024–2029
.jpg)
Keterangan Gambar : Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Damayanti. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA - Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Damayanti, menyuarakan keprihatinannya atas rendahnya jumlah anggota dewan perempuan yang terpilih pada periode 2024–2029.
Dari total 55 anggota DPRD Kaltim terpilih, hanya delapan di antaranya adalah perempuan. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 11 orang.
“Partisipasi perempuan bukan soal memenuhi kuota semata, tapi soal hadirnya perspektif unik yang lahir dari pengalaman langsung sebagai perempuan,” ujar.
Baca Lainnya :
- Abdul Giaz Dorong Transportasi Daring Lokal: Wujudkan Kedaulatan Digital di Kaltim0
- Andi Satya Soroti Krisis Tenaga Medis di Kaltim, Dorong Telemedicine dan Beasiswa Kedokteran0
- Hartono Basuki Soroti Minimnya Fasilitas RS di Paser, Dorong Benkeu Kesehatan dari Provinsi0
- Angka Stunting di Kukar Terus Menurun, DPRD Kaltim Apresiasi Peran Ketua RT dan Serukan Penguatan Ke0
- Firnadi Ikhsan Sosialisasikan Perda Ketertiban Umum di Kubar: Perkuat Peran Masyarakat dalam Mewujud0
Menurut politisi perempuan ini, keterwakilan perempuan di parlemen sangat krusial untuk memastikan kebijakan yang lahir berpihak pada isu-isu perempuan, anak, dan keluarga.
Damayanti menilai bahwa berkurangnya keterwakilan perempuan mencerminkan masih besarnya tantangan yang dihadapi kaum perempuan di dunia politik. Tantangan tersebut antara lain minimnya dukungan sosial, keterbatasan akses politik, hingga beban ganda dalam kehidupan domestik.
“Kita butuh regenerasi pemimpin perempuan yang kuat, agar suara perempuan tak hanya simbolis, tapi benar-benar punya daya pengaruh dalam pengambilan kebijakan,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar ke depan partai politik lebih serius mendorong kader perempuan untuk maju, sekaligus memberikan pelatihan dan ruang aktualisasi yang setara. Menurutnya, kehadiran perempuan di legislatif adalah bagian penting dari demokrasi yang sehat dan representatif. (SRA/ADV/DPRDKALTIM)










.jpg)
