- SATRIA Hadir di Bontang, Jadi Ruang Digital Informatif dan Ramah Anak
- Neni Minta Orang Tua Awasi Ruang Digital Anak, Jangan Biarkan Smartphone Tanpa Kontrol
- Agus Haris Sebut Pemkot dan KONI Saling Membutuhkan, Pembinaan Atlet Harus Diperkuat
- APBD 2027 Tertekan, Neni Perketat Belanja Pemkot Bontang
- RAPBD 2027 Bontang Tembus Rp2 Triliun, Neni Ungkap Ada Kurang Bayar DBH Rp402,58 Miliar
- Pemkot Bontang Dorong Penanggulangan TB Jadi Bagian dari Pelayanan Publik
- Agus Haris Desak PLN Hentikan Pemadaman Bergilir di Bontang
- Pemkot Bontang Siapkan Integrasi Program Mengaji ke Wajar 19.00-21.00
- Pemkot Bontang Kaji Skema Tambahan Guru Ngaji Berbasis Jumlah Murid
- 15.410 KK di Bontang Terima Bantuan Beras Selama Tiga Bulan
Neni Minta Orang Tua Awasi Ruang Digital Anak, Jangan Biarkan Smartphone Tanpa Kontrol

Analognews.id, BONTANG - Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni meminta orang tua tidak berhenti pada pemberian smartphone kepada anak, tetapi turut mengawasi aktivitas mereka di ruang digital. Pengawasan dinilai penting karena akses internet yang semakin luas membuat anak mudah menemukan berbagai informasi tanpa selalu memahami dampaknya.
Neni mengatakan smartphone memang dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran dan komunikasi. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan aturan agar anak tidak bebas mengakses berbagai konten yang belum sesuai dengan usia mereka.
“Orang tua harus tahu anaknya menggunakan smartphone untuk apa, berkomunikasi dengan siapa, dan berada di lingkungan digital seperti apa,” ujar Neni, Kamis (17/9/2026).
Baca Lainnya :
Menurutnya, pengawasan tersebut tidak harus dilakukan dengan melarang anak menggunakan teknologi. Orang tua justru perlu membangun komunikasi sehingga anak memahami alasan di balik pembatasan penggunaan gawai.
Ia meminta orang tua menetapkan waktu penggunaan smartphone sekaligus membangun kesepakatan mengenai konten maupun aktivitas digital yang boleh diakses anak.
Neni juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap anak di era digital tidak selalu terlihat secara langsung. Berbagai konten negatif dapat muncul melalui media sosial, grup percakapan, maupun platform internet lainnya.
Karena itu, menurut Neni, pendampingan keluarga menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan anak menghadapi arus informasi digital.
“Teknologi jangan sampai mengambil alih peran orang tua dalam mendampingi anak. Justru semakin banyak informasi yang mereka terima, semakin kuat pula pendampingan yang harus kita berikan,” katanya.
Ia turut mengajak komite sekolah dan para orang tua membahas persoalan penggunaan gawai dalam pertemuan sekolah. Langkah tersebut dinilai penting agar pengawasan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga mendapat dukungan dari lingkungan pendidikan.
Selain pengawasan, Neni meminta anak-anak dibekali kemampuan untuk memilah informasi. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang muncul di internet benar atau layak untuk dikonsumsi.
“Anak-anak harus belajar memilih mana yang bermanfaat dan mana yang harus dihindari. Jangan sampai apa yang dilihat di dunia digital justru menentukan masa depan mereka,” tuturnya.
Neni berharap sinergi antara keluarga, sekolah dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat untuk mengembangkan potensi generasi muda, bukan menjadi sumber persoalan baru.
Ia pun mengingatkan para pelajar agar menjaga diri dan tidak mudah mengikuti berbagai ajakan yang muncul di ruang digital.
“Anak-anakku, hati-hati. Masa depan Bontang ada pada dirimu. Sajadahmu masih panjang,” pesannya.










.jpg)
