- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Kaltim di Ujung Tahun Silpa Rp6 Triliun, Antara Tantangan dan Harapan

Keterangan Gambar : Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud. (Foto: HUMAS Sekretariat DPRD Kaltim)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA - Akhir tahun 2024 menjadi momen refleksi yang penuh kejutan bagi Kalimantan Timur. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) provinsi ini mencatat angka fantastis, lebih dari Rp 6 triliun.
Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan simbol dari tantangan besar dalam tata kelola keuangan daerah. Di tengah ekspektasi tinggi masyarakat akan pembangunan, fakta bahwa dana sebesar itu justru mengendap menjadi ironi yang menggugah perhatian.
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, tak menampik bahwa fenomena ini mengungkap kelemahan mendasar dalam perencanaan anggaran. Menurutnya, Silpa yang besar adalah sinyal bahwa pengelolaan keuangan daerah belum optimal.
"Jika Silpa besar, itu artinya kita belum bisa mengelola keuangan dengan baik," ungkap Hasanuddin tegas.
Ia menyoroti kurang optimalnya perencanaan program kerja jangka panjang dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai akar masalah. Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lanjutnya, juga menjadi sorotan.
Pimpinan Parlemen Kaltim yang akrab disapa Hamas ini mengungkapkan banyak program yang seharusnya terealisasi terhenti di tengah jalan, mencerminkan kelemahan dalam sistem birokrasi.
"Pemerintah belum memaksimalkan kinerja SKPD. Jika ini terus dibiarkan, anggaran yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat hanya akan menjadi angka-angka tak bermakna," katanya, sembari mengingatkan.
Tak hanya soal birokrasi, Hamas juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dan pengawasan anggaran. Menurutnya, rendahnya partisipasi publik turut memperparah persoalan ini.
"Kami di DPRD ingin memastikan bahwa semua yang telah dialokasikan di APBD benar-benar terealisasi," tegasnya.
Dengan kekuatan fiskal yang mencapai lebih dari Rp 20 triliun sepanjang tahun, Kalimantan Timur sebenarnya memiliki peluang besar untuk membawa perubahan nyata. Hamas berharap kepemimpinan Gubernur periode mendatang mampu menjawab tantangan ini dengan langkah-langkah strategis yang lebih terarah.
"Seharusnya, dana besar ini bisa memberikan dampak positif yang lebih luas. Sayangnya, ketidaktuntasan dalam pelaksanaan program menjadi kendala utama. Kami ingin keuangan daerah benar-benar dikelola dengan akuntabilitas tinggi demi pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ucapnya.
Silpa Rp 6 triliun bukan hanya sekadar angka, ia mencerminkan dilema sekaligus peluang bagi Kalimantan Timur. Tantangan yang ada kini menjadi tugas bersama, baik pemerintah, legislatif, maupun masyarakat, untuk memastikan provinsi kaya ini mampu memaksimalkan potensi demi kesejahteraan yang nyata. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
