- Turnamen Voli Putri Bontang Jadi Wadah Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
- Kapal Fiber dan Jaring Gillnet Disiapkan, DKP3 Bontang Dorong Produktivitas KUB Nelayan
- DKP3 Perkuat Pengawasan Distribusi MBG, Pastikan Makanan Aman hingga Diterima Siswa
- Pemkot Serahkan Penanganan Sengketa Kapal Roro ke Kejaksaan, Neni: Itu Aset Pemerintah
- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
Jalan Licin dan Krisis Air, Potret Kehidupan di Kabupaten Kubar dan Mahulu

Keterangan Gambar : Ilustrasi jalanan yang rusak Kabupaten Mahulu. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Di pedalaman Kalimantan Timur, suara rintihan jalan berlumpur dan keran air yang mengering menjadi pemandangan sehari-hari. Ketika hujan mengguyur, roda-roda kendaraan tersangkut dalam kubangan lumpur, sementara warga berjalan berjam-jam hanya untuk mendapatkan setetes air bersih.
Realitas ini tergambar jelas saat Yonavia, Anggota Dewan Perwakilam Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), mengunjungi daerah pemilihannya di Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu). Dalam reses beberapa waktu lalu, ia menemui wajah-wajah penuh harap dari warga yang meminta solusi atas dua masalah pokok: jalan dan air.
Perjalanan ke Mahulu bukan sekadar menempuh jarak, tetapi juga menembus medan berat. “Akses jalan dari Kutai Barat menuju Mahakam Ulu masih berupa tanah liat. Ketika hujan, jalanan menjadi licin dan hampir tak bisa dilewati. Ini benar-benar menghambat transportasi dan perekonomian masyarakat,” ujar Yonavia.
Mahakam Ulu, daerah yang dikelilingi sungai dan pegunungan, menghadapi tantangan geografis yang unik. Banjir yang kerap datang tidak hanya memutus jalan, tetapi juga mengisolasi warga dari fasilitas-fasilitas penting seperti pasar, sekolah, hingga rumah sakit.
Kondisi ini, menurut Yonavia, bukan sekadar masalah infrastruktur, tetapi juga ancaman nyata bagi kesejahteraan masyarakat. “Jika jalan tidak segera diperbaiki, akses terhadap kebutuhan pokok dan layanan dasar akan terus terganggu,” tegasnya.
Masalah tak berhenti di jalanan. Mahulu juga menghadapi krisis air bersih yang kronis. Warga di daerah pegunungan masih mengandalkan sumber air alam yang terbatas dan tidak selalu aman untuk dikonsumsi.
“Distribusi air bersih dari PDAM belum menjangkau daerah-daerah terpencil. Banyak warga yang terpaksa menggunakan air seadanya yang kualitasnya sering kali tidak layak,” keluh Yonavia.
Air bersih adalah kebutuhan mendasar yang belum bisa dipenuhi dengan baik. Tanpa itu, risiko kesehatan meningkat, terutama bagi anak-anak yang rentan terhadap penyakit akibat konsumsi air yang tercemar.
Yonavia berkomitmen menjadikan perbaikan infrastruktur sebagai prioritas utama. Menurutnya, jalan dan air adalah kunci untuk membuka akses ke pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang lebih baik di Kubar dan Mahulu.
“Kami akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan provinsi untuk memastikan perbaikan infrastruktur ini segera terealisasi. Masyarakat tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” tegasnya.
Ia juga berharap PDAM dapat meningkatkan jangkauan layanan mereka ke wilayah-wilayah terpencil. Hal ini, katanya, membutuhkan sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat lokal.
Di balik kerasnya hidup di pedalaman Kalimantan Timur, ada secercah harapan. Jika jalan-jalan diperkeras dan air bersih menjangkau setiap rumah, warga Mahulu dan Kubar bisa membayangkan masa depan yang lebih baik.
“Jalan mulus dan air bersih bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar setiap warga. Kita harus bergerak bersama untuk mewujudkannya,” tutup Yonavia.
Suara-suara dari sudut timur Kalimantan ini adalah pengingat bahwa pembangunan yang merata adalah kunci untuk menciptakan kesejahteraan di seluruh pelosok negeri. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
