- Turnamen Voli Putri Bontang Jadi Wadah Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
- Kapal Fiber dan Jaring Gillnet Disiapkan, DKP3 Bontang Dorong Produktivitas KUB Nelayan
- DKP3 Perkuat Pengawasan Distribusi MBG, Pastikan Makanan Aman hingga Diterima Siswa
- Pemkot Serahkan Penanganan Sengketa Kapal Roro ke Kejaksaan, Neni: Itu Aset Pemerintah
- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
Gaya Hidup Hedon di Kalangan Pemuda Samarinda, Catatan Kritis Afif Rayhan Harun

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Andi Muhammad Afif Rayhan Harun. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Gaya hidup hedonis yang semakin marak di kalangan generasi milenial dan Gen Z di Samarinda memantik perhatian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Muhammad Afif Rayhan Harun.
Ia menyoroti kecenderungan para pemuda yang lebih fokus pada kesenangan dan kemewahan, tanpa memikirkan pentingnya tabungan masa depan atau investasi.
"Pemuda di Samarinda itu, hampir semua hedon. Karena standar hidup mereka itu kebanyakan standar hidup TikTok dan Instagram," ungkap Afif dalam sebuah pernyataan baru-baru ini.
Afif menilai, pola hidup ini didorong oleh tren media sosial yang mendorong standar kehidupan serba glamor. Akibatnya, banyak pemuda yang lebih mengutamakan penampilan atau gaya hidup konsumtif dibandingkan mempersiapkan masa depan.
Melihat fenomena tersebut, Afif mengajak para pemuda di Samarinda untuk mengurangi gaya hidup hedonis dan lebih bijak dalam mengelola penghasilan. Ia menekankan pentingnya menggunakan pendapatan, termasuk uang dari orang tua, dengan cara yang lebih produktif.
"Jangan sampai rebahan, bangun-bangun hedon. Kalau nongkrong, jangan sampai yang ditanya itu mobilnya apa? Ceweknya siapa? Sepatunya apa?" tegas Afif.
Ia juga mengingatkan bahwa selama para pemuda belum mandiri secara finansial, fokus utama seharusnya adalah belajar dan mempersiapkan diri untuk masa depan.
"Selama kalian belum bisa berpenghasilan sendiri, masih uang orang tua, nggak usah banyak ngomong. Belajar yang banyak," tambahnya.
Lebih jauh, Afif mengajak generasi muda untuk aktif berpartisipasi dalam membangun daerah. Ia menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045, di mana pemuda berperan sebagai motor penggerak perubahan.
"Jangan sampai Indonesia Emas malah menjadi Indonesia Lemas," tandas Afif.
Sebagai wakil rakyat, Afif berharap pemuda tidak hanya terjebak dalam gaya hidup konsumtif, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Dengan mengelola keuangan dengan bijak serta berkontribusi aktif, generasi milenial dan Gen Z di Samarinda diharapkan dapat mendukung terwujudnya masa depan yang cerah bagi Indonesia. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
