- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Arah Kebijakan Penguatan Budaya Lokal

Keterangan Gambar : Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. (rk)
SAMARINDA – DPRD Kota Samarinda menilai sektor kebudayaan belum ditempatkan secara strategis dalam arah pembangunan kota. Sorotan tidak lagi sebatas pada upaya pelestarian warisan budaya, melainkan pada lemahnya kebijakan yang menjadikan kebudayaan sebagai instrumen pembentuk identitas dan daya saing daerah.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menyampaikan bahwa kebudayaan seharusnya menjadi fondasi dalam membangun citra kota, bukan sekadar agenda seremonial yang muncul pada momen tertentu.
“Kota ini memiliki jejak sejarah dan ruang budaya yang kuat, namun belum dikelola sebagai kekuatan pembangunan,” bebernya, Rabu (17/12/2025).
Baca Lainnya :
- Komisi III DPRD Dorong Penetapan Zona Pendidikan di Jalan Juanda Samarinda0
- Komisi III DPRD Samarinda Jadwalkan Pemanggilan PUPR Terkait LPJU Citra Niaga0
- DPRD Samarinda Pertanyakan Efektivitas LPJU Citra Niaga, Penerangan Dinilai Tak Sejalan dengan Fungs0
- Komisi III DPRD Samarinda Nilai Tiang LPJU Tak Layak, Berisiko bagi Keselamatan Pengguna Jalan0
- DPRD Samarinda Dorong Penataan Penerangan Jalan sebagai Bagian Wajah Kota0
Puji mencontohkan sejumlah aset budaya seperti kawasan Citra Niaga, rumah adat, hingga masjid tua yang berpotensi menjadi simpul edukasi dan destinasi budaya. Namun, potensi tersebut dinilai belum berkembang optimal karena lemahnya pembinaan dan belum adanya arah kebijakan yang jelas.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan aset budaya, melainkan pada keberpihakan anggaran dan keseriusan pemerintah kota dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Tanpa dukungan tersebut, lembaga adat dan komunitas budaya akan sulit berkembang.
Ia juga mengingatkan bahwa minimnya ruang ekspresi budaya lokal berisiko mendorong generasi muda semakin menjauh dari identitas daerah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan karakter sosial kota.
DPRD mendorong agar kebudayaan mulai diposisikan sebagai investasi sosial jangka panjang. Puji menilai, meskipun berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran, sektor kebudayaan tetap memerlukan perhatian yang proporsional dan terarah.
“Kalau kebudayaan hanya dipandang sebagai pelengkap, kita akan kehilangan kesempatan membangun karakter kota. Padahal, dari sanalah kekuatan sosial dan potensi pariwisata bisa tumbuh,” tegasnya.










.jpg)
