- Turnamen Voli Putri Bontang Jadi Wadah Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
- Kapal Fiber dan Jaring Gillnet Disiapkan, DKP3 Bontang Dorong Produktivitas KUB Nelayan
- DKP3 Perkuat Pengawasan Distribusi MBG, Pastikan Makanan Aman hingga Diterima Siswa
- Pemkot Serahkan Penanganan Sengketa Kapal Roro ke Kejaksaan, Neni: Itu Aset Pemerintah
- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
Buaya Mengancam, Kutai Timur di Bawah Bayang-bayang Serangan Reptil Ganas

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Sulasih. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, KUTAI TIMUR - Wilayah kaya akan keindahan alam di Kalimantan Timur, kini menghadapi ancaman yang kian meresahkan, serangan buaya. Dalam beberapa waktu terakhir, laporan tentang serangan reptil ganas ini terus bermunculan, bahkan merenggut korban jiwa.
Situasi tersebut memicu perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Sulasih, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), yang mendesak langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa.
“Pemerintah Kabupaten Kutai Timur sebenarnya sudah berupaya menekan risiko ini, salah satunya dengan melarang warga mendekati sungai, habitat alami buaya. Tapi sayangnya, masih ada masyarakat yang abai terhadap larangan itu,” ujar Sulasih dengan nada prihatin.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Wilayah pemukiman yang semakin meluas telah mendorong buaya bermigrasi lebih dekat ke daratan. Sulasih menilai, kondisi ini menjadi alarm bahaya baru, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar aliran sungai.
“Kadang masyarakat teledor atau bahkan nekat bermain di sekitar sungai. Apalagi sekarang, buaya mulai banyak yang naik ke daratan,” tambahnya.
Sulasih menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak-anak agar tidak bermain di kawasan rawan buaya. Baginya, pengawasan ini menjadi kunci untuk mencegah jatuhnya korban.
“Orang tua harus lebih ketat mengawasi anak-anak mereka. Jika perlu, larang mereka bermain di sekitar bantaran sungai. Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.
Namun, tanggung jawab tak hanya ada di pundak masyarakat. Sulasih juga mendesak Pemkab Kutim untuk memperkuat langkah antisipasi. Pemasangan papan peringatan di area rawan dan patroli rutin di sekitar perairan dianggapnya sebagai langkah minimal untuk menciptakan rasa aman bagi warga.
Situasi ini menjadi pengingat pahit tentang kehidupan di tengah alam liar. Tinggal di wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat satwa buas menuntut kehati-hatian dan kesadaran yang tinggi.
Meski pemerintah dan aparat telah mengambil berbagai langkah, Sulasih menegaskan bahwa masyarakat tetap memegang peran penting dalam menjaga keselamatan mereka sendiri. “Ikuti arahan pihak berwenang dan tetap waspada. Jangan sampai tragedi yang lebih besar terjadi,” pesannya.
Ancaman buaya di Kutai Timur tak hanya soal keselamatan, tapi juga tentang bagaimana manusia dan alam dapat hidup berdampingan dengan lebih harmonis. Mungkin, inilah saatnya untuk benar-benar memahami arti menjaga batas antara kebutuhan manusia dan hak hidup alam liar. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
