- Turnamen Voli Putri Bontang Jadi Wadah Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
- Kapal Fiber dan Jaring Gillnet Disiapkan, DKP3 Bontang Dorong Produktivitas KUB Nelayan
- DKP3 Perkuat Pengawasan Distribusi MBG, Pastikan Makanan Aman hingga Diterima Siswa
- Pemkot Serahkan Penanganan Sengketa Kapal Roro ke Kejaksaan, Neni: Itu Aset Pemerintah
- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
Andi Satya Adi Saputra: Pelestarian Budaya Lokal, Tugas Bersama Generasi Muda

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra. (Foto: HUMAS Sekretariat DPRD Kaltim)
JANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Di tengah arus modernisasi dan perkembangan digital yang begitu cepat, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan serius bagi Kalimantan Timur (Kaltim). Anggota DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra menilai, generasi muda memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan kekayaan budaya daerah.
Sebagai legislator muda, Andi Satya mengungkapkan bahwa upaya pelestarian budaya harus didukung dengan kebijakan yang relevan, kolaborasi lintas sektor, dan penyediaan fasilitas kebudayaan yang memadai.
“Legislator muda memiliki perspektif dan semangat berbeda dalam mengapresiasi budaya lokal. Kami berharap bisa merancang kebijakan yang tak hanya seremonial, tetapi berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Andi Satya.
Kalimantan Timur dikenal dengan kekayaan tradisi, mulai dari tarian, musik, hingga bahasa daerah yang menjadi identitas masyarakatnya. Namun, modernisasi membawa tantangan besar, seperti pergeseran minat generasi muda akibat dominasi budaya pop dan teknologi.
Andi Satya menyadari bahwa revitalisasi budaya membutuhkan lebih dari sekadar upacara simbolis. Ia mendorong pembangunan fasilitas seperti museum, pusat seni, dan ruang ekspresi budaya sebagai langkah konkret untuk menjaga warisan budaya.
“Kami mendukung penuh inisiatif eksekutif dalam membangun fasilitas kebudayaan. Namun, legislatif juga harus memastikan program pelestarian ini berjalan maksimal melalui kebijakan dan penganggaran yang mendukung,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara legislatif dan eksekutif sangat penting untuk keberhasilan pelestarian budaya. Legislator muda, kata dia, tidak hanya bertugas sebagai pengamat, tetapi juga penggerak yang aktif dalam memperjuangkan nilai-nilai budaya lokal di tingkat kebijakan.
“Kami berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mendorong kebijakan yang mendukung pelestarian budaya, termasuk pengalokasian anggaran yang memadai. Dengan kolaborasi yang kuat, budaya lokal bisa terus diwariskan kepada generasi mendatang,” imbuhnya.
Andi Satya juga menekankan peran generasi muda sebagai garda terdepan pelestarian budaya. Ia berharap anak-anak muda di Kaltim dapat lebih mengenal dan mencintai tradisi lokal, sehingga warisan budaya ini tetap hidup di tengah modernisasi.
“Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi budaya yang telah diwariskan. Dengan demikian, Kaltim tidak hanya dikenal karena kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga karena kekayaan budaya dan kearifan lokalnya,” pungkasnya.
Dengan komitmen legislatif, dukungan eksekutif, dan partisipasi generasi muda, diharapkan upaya pelestarian budaya Kaltim dapat berjalan maksimal, memperkuat identitas daerah, sekaligus menghadirkan kebanggaan bagi masyarakat di tengah derasnya tantangan zaman. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
