- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Wartawan Al Jazeera Tewas Ditembak Tentara Israel
Shireen Abu Akleh tertembak saat meliput bentrokan antara pasukan keamanan Israel dengan warga Palestina di Kota Jenin, Tepi Barat

Keterangan Gambar : Shiren Abu Akleh (int)
ANALOGNEWS.id - Wartawan Al Jazeera, Shireen Abu Akleh tewas tertembak oleh tentara Israel saat meliput bentrokan antara pasukan keamanan Israel dengan warga Palestina di Kota Jenin, Tepi Barat.
Shireen terbunuh pada hari Rabu 11 Mei 2022, ia sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 07.15 (04.15 GMT). Kepergian jurnalis veteran Al Jazeera, itu menjadi sorotan internasional.
Kecaman hingga tuntutan penyelidikan independen atas kematian perempuan 51 tahun itu pun bermunculan dari berbagai pihak seperti Palestina, Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Lainnya :
- Hadapi Liverpool, Berikut Prediksi Susunan Pemain Manchester United0
- Kembalikan Uang Hadiah Dari Doni Salamanan, Artis ini Bebas Dari Tindak Pidana Pencucian Uang0
- Korban Begal Jadi Tersangka di NTB, Ini Pesan Kabareskrim0
- Modus Sewa Mobil, Warga Muara Badak Bawa Kabur Mobil ke Kubar0
- Palsukan Tanda Tangan JK, Arief Rosyid Dipecat0
Di sisi lain, Israel mengklaim pasukannya tidak bersalah dan menyebut Abu Akleh tewas tertembak warga Palestina yang membawa senjata saat bentrokan terjadi.
Abu Akleh merupakan satu di antara tokoh media keturunan Arab ternama. Ia dipuji luas karena keberanian dan profesionalismenya, terutama ketika meliput konflik dan peperangan.
Beberapa jam setelah kabar kematiannya menyebar, pemuda Palestina, terutama kaum perempuan menganggap Abu Akleh sebagai sosol inspiratif. Banyak di antara mereka mengaku ingin menekuni jurnalisme karena sosok Abu Akleh.
"Dia tidak pernah lelah," kata koresponden senior internasional Al Jazeera, Hoda Abdel-Hamid, kepada AFP.
"Dia selalu ada di sana setiap kali terjadi sesuatu. Dia ingin berada di sana, untuk menceritakan kejadian yang ada, terus-menerus," paparnya menambahkan.
Dalam sebuah wawancara sesaat sebelum kematiannya, Abu Akleh, yang juga warga negara Amerika Serikat, menggambarkan dirinya sebagai "produk Yerusalem".
Abu Akleh menghabiskan sebagian besar karir kewartawanannya untuk meliput konflik Israel dan Palestina.
Perempuan kelahiran Yerusalem timur itu lahir dari keluarga Kristiani asli Palestina. Ibunda Abu Akleh lahir di Yerusalem barat dan sang ayah berasal dari Betlehem di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Shireen Abu Akleh lulus dari perguruan tinggi pada tahun penandatanganan perjanjian damai Oslo dan bergabung dengan radio Voice of Palestine yang saat itu baru terbentuk.
Pada 1997, Abu Akleh bergabung dengan Al Jazeera, di mana karir jurnalismenya terus meroket hingga menjadi tokoh ikon di media Arab.
Akibat popularitasnya yang tinggi di Palestina, warga berbondong-bondong menempatkan karangan bunga di sisi jalan yang dilalui ambulans pengangkut jenazah Abu Akleh menuju Nabus sebelum dimakamkan di Yerusalem.
Salah satu rekan dekat Abu Akleh, Muhammad Daraghmeh, mengatakan mendiang kerabatnya itu adalah "salah satu jurnalis terkuat di dunia Arab".
Ketenaran Abu Akleh tumbuh sejak liputannya tentang intifada Palestina kedua, atau pemberontakan warga Palestina, dari tahun 2000 hingga 2005.
Wartawan senior Al Jazeera Dima Khatib mentweet bahwa Abu Akleh adalah "salah satu koresponden perang wanita Arab pertama di akhir 1990-an.
Saat itu, kebanyakan jurnalis perempuan bekerja di studio televisi, tidak diterjunkan ke zona perang.
"Shireen adalah pelopor dalam generasi yang mematahkan stereotip peran gender dalam jurnalisme TV."
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Abu Akleh mengatakan dia sering merasa takut saat bertugas di zona perang, tetapi ia tetap menjalankan tugasnya dan memastikan untuk menghindari risiko yang tidak perlu.
"Saya tidak melemparkan diri saya pada kematian," katanya kepada sebuah outlet di kota Nablus, Tepi Barat, seperti dikutip AFP.
"Saya mencari tempat yang aman untuk berdiri dan bagaimana melindungi kru saya sebelum mengkhawatirkan rekaman liputan."
Tahun lalu, Abu Akleh menulis soal Kota Jenin dalam publikasi This Week in Palestine bahwa Jenin. Ia menganggap Jenin, kota tempat dia tewas tertembak, bukan lah satu cerita fana dalam kariernya atau bahkan dalam kehidupan pribadinya".
"Ini adalah kota yang dapat meningkatkan moral saya dan membantu saya terbang. Ini mewujudkan semangat Palestina yang kadang-kadang gemetar dan jatuh tetapi, di luar semua harapan, bangkit untuk mengejar mimpinya," tulis Abu Akleh dalam opininya tersebut. (*)
Sumber : CNNIndonesia










.jpg)
