- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
Tren DBD Meningkat, Andi Satya Dorong Langkah Preventif dan Vaksinasi di Kaltim

Keterangan Gambar : Ilustrasi nyamuk pembawa penyakit DBD. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia menjadi perhatian serius, terutama menjelang musim pancaroba. Data Kementerian Kesehatan RI pada Maret 2024 menunjukkan 60.296 kasus dengan 455 kematian, angka yang terus meningkat seiring pergantian musim.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra, menyebut musim pancaroba, yang berlangsung dari November hingga April, sebagai periode kritis yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia menyoroti pentingnya tindakan proaktif masyarakat dan pemerintah dalam mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
“Musim pancaroba adalah waktu di mana kasus DBD cenderung meningkat. Penting bagi kita untuk memeriksa genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti,” ujar Andi.
Langkah-langkah preventif seperti fogging dan pengecekan lingkungan secara berkala, menurut Andi, harus menjadi prioritas di daerah-daerah rawan DBD. Ia menekankan bahwa tindakan pencegahan dini dapat menghentikan penyebaran penyakit sebelum mencapai skala yang lebih besar.
“Tindakan seperti fogging dan edukasi masyarakat sangat penting. Ini bukan hanya soal pengobatan, tetapi bagaimana kita menghentikan penyebaran penyakit sejak awal,” tambahnya.
Tidak hanya mengandalkan langkah konvensional, Andi juga mengapresiasi inisiatif pemerintah Provinsi Kaltim dalam mengimplementasikan program vaksinasi DBD sebagai langkah inovatif. Program ini difokuskan pada anak-anak usia sekolah, khususnya di bawah 10 tahun, sebagai kelompok yang rentan terhadap penyakit ini.
“Program vaksinasi DBD di Kaltim adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Harapannya, ini mampu menekan angka kejadian dan kematian akibat DBD, terutama di kalangan anak-anak,” jelas Andi Satya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya pencegahan jangka panjang.
Edukasi mengenai pola hidup sehat dan pengelolaan lingkungan, seperti memastikan tidak ada air tergenang di sekitar rumah, dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko.
“Kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci keberhasilan pencegahan DBD. Kita harus bergerak bersama untuk melindungi keluarga dan komunitas kita,” tegasnya.
Melalui kombinasi langkah preventif, tindakan inovatif seperti vaksinasi, dan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi, Andi optimis angka kasus DBD di Kaltim dapat ditekan secara signifikan.
“Kita berharap, dengan sinergi semua pihak, Kaltim dapat menjadi contoh daerah yang berhasil mengatasi wabah DBD," pungkasnya. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
