- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Tren DBD Meningkat, Andi Satya Dorong Langkah Preventif dan Vaksinasi di Kaltim

Keterangan Gambar : Ilustrasi nyamuk pembawa penyakit DBD. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia menjadi perhatian serius, terutama menjelang musim pancaroba. Data Kementerian Kesehatan RI pada Maret 2024 menunjukkan 60.296 kasus dengan 455 kematian, angka yang terus meningkat seiring pergantian musim.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra, menyebut musim pancaroba, yang berlangsung dari November hingga April, sebagai periode kritis yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia menyoroti pentingnya tindakan proaktif masyarakat dan pemerintah dalam mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
“Musim pancaroba adalah waktu di mana kasus DBD cenderung meningkat. Penting bagi kita untuk memeriksa genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti,” ujar Andi.
Langkah-langkah preventif seperti fogging dan pengecekan lingkungan secara berkala, menurut Andi, harus menjadi prioritas di daerah-daerah rawan DBD. Ia menekankan bahwa tindakan pencegahan dini dapat menghentikan penyebaran penyakit sebelum mencapai skala yang lebih besar.
“Tindakan seperti fogging dan edukasi masyarakat sangat penting. Ini bukan hanya soal pengobatan, tetapi bagaimana kita menghentikan penyebaran penyakit sejak awal,” tambahnya.
Tidak hanya mengandalkan langkah konvensional, Andi juga mengapresiasi inisiatif pemerintah Provinsi Kaltim dalam mengimplementasikan program vaksinasi DBD sebagai langkah inovatif. Program ini difokuskan pada anak-anak usia sekolah, khususnya di bawah 10 tahun, sebagai kelompok yang rentan terhadap penyakit ini.
“Program vaksinasi DBD di Kaltim adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Harapannya, ini mampu menekan angka kejadian dan kematian akibat DBD, terutama di kalangan anak-anak,” jelas Andi Satya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya pencegahan jangka panjang.
Edukasi mengenai pola hidup sehat dan pengelolaan lingkungan, seperti memastikan tidak ada air tergenang di sekitar rumah, dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko.
“Kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci keberhasilan pencegahan DBD. Kita harus bergerak bersama untuk melindungi keluarga dan komunitas kita,” tegasnya.
Melalui kombinasi langkah preventif, tindakan inovatif seperti vaksinasi, dan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi, Andi optimis angka kasus DBD di Kaltim dapat ditekan secara signifikan.
“Kita berharap, dengan sinergi semua pihak, Kaltim dapat menjadi contoh daerah yang berhasil mengatasi wabah DBD," pungkasnya. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
