- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
Subandi Dorong Kurikulum Berbasis Kemandirian Ekonomi dan Kewirausahaan

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Subandi. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Subandi, menyerukan perlunya pengembangan kurikulum pendidikan yang berfokus pada kemandirian ekonomi dan keterampilan kewirausahaan.
Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, pendidikan harus mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan ekonomi global dengan menekankan keterampilan praktis sejak dini.
“Saya melihat pentingnya adanya kurikulum khusus tentang kemandirian ekonomi. Hal itu harus dilatih sejak dini, agar siswa siap menghadapi dinamika dunia kerja dan ekonomi,” ujar Subandi.
Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap pola pikir mayoritas lulusan pendidikan di Indonesia yang lebih berorientasi pada mencari pekerjaan daripada menciptakan peluang kerja.
Hal ini, menurutnya, berbanding terbalik dengan tren di banyak negara maju, di mana lulusan didorong untuk berinovasi dan menjadi wirausahawan.
“Di luar negeri, banyak lulusan yang terdorong untuk menciptakan lapangan kerja. Sementara di Indonesia, sebagian besar masih terfokus menjadi pekerja. Padahal, yang kita butuhkan adalah keterampilan untuk menciptakan peluang baru,” jelasnya.
Subandi menilai, kurikulum pendidikan di Indonesia harus mengintegrasikan pelatihan kewirausahaan sebagai bagian utama. Ia menekankan pentingnya pembelajaran berbasis keterampilan praktis, seperti manajemen usaha, pemasaran digital, dan inovasi produk, sehingga siswa tidak hanya memiliki pengetahuan teoretis, tetapi juga kompetensi untuk membuka usaha.
“Pendidikan kita harus memiliki muatan keterampilan. Generasi muda harus dilatih untuk berpikir kreatif, berinovasi, dan mandiri. Dengan begitu, mereka tidak hanya siap bekerja, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain,” tegasnya.
Subandi juga berharap agar pengembangan kurikulum ini disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Di Kalimantan Timur, misalnya, ia melihat potensi besar di sektor ekonomi kreatif, pariwisata, dan usaha kecil menengah (UKM).
Pendidikan yang mendukung sektor ini, menurutnya, dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menciptakan generasi muda yang kompeten dan mandiri.
“Dengan sistem pendidikan yang lebih berorientasi pada keterampilan, saya yakin generasi muda Kaltim mampu bersaing secara global dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah,” ujarnya dengan optimis.
Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa pemerintah pusat dan daerah dapat berkolaborasi untuk merealisasikan perubahan kurikulum ini, demi mewujudkan generasi muda Indonesia yang lebih mandiri dan inovatif. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
