Sering Nyabu di Kantor, Dua Hakim di Banten Ditangkap Polisi

By Redaksi 24 Mei 2022, 20:28:19 WIB Hukum
Sering Nyabu di Kantor, Dua Hakim di Banten Ditangkap Polisi

Keterangan Gambar : Sering Nyabu di Kantor, Dua Hakim di Banten Ditangkap Polisi - (ilustrasi)


ANALOGNEWS.id - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten menangkap Danu Arman (39) dan Yudi Rozadinata (39) yang bekerja di Pengadilan Negeri (PN) Rangkasbitung pada (17/Mei/2022). Keduanya tertangkap basah saat membeli sabu-sabu lewat jasa ekspedisi.

Kasus ini jelas menjadi ironi, terutama buat Hakim Yudi yang tercatat bolak-balik mengadili kasus narkoba. Barangkali sekarang ia membatin, yah namanya juga hidup, kadang jadi yang nyidang, kadang jadi yang disidang.

Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka. Total ada empat tersangka, dua lainnya ialah RAS, PNS di PN Rangkasbitung, serta H, asisten rumah tangga Yudi. Menurut BNN, tes urine keempatnya menunjukkan hasil positif. Yudi diduga sudah menjadi pemakai selama 1-3 tahun, sedangkan Danu dan RAS mengaku baru memakai sejak dikenalkan Yudi.

Baca Lainnya :

"Hasil pemeriksaan sementara, YR dan DR mengaku sudah menggunakan lebih satu tahun, mungkin dua tahun, mungkin bisa tiga tahun," ujar Kepala BNNP Banten Hendri Marpaung, Senin lalu (23/5/2022), dilansir Kompas.

Mereka mengaku mengisap sabu di mana-mana. Kadang di rumah Yudi, kadang di ruang hakim. Ini terbukti ketika penggeledahan kantor Yudi dan Danu, ditemukan alat-alat isap (bong), pipet, dan korek di laci mereka.

Meski lumayan vulgar saat memakai, mereka tak tertangkap basah. Petunjuk dimulai ketika BNN mendapat informasi adanya kiriman paket sabu dari Sumatera lewat salah satu ekspedisi. RAS berperan sebagai kurir yang menjemput paket, di saat itu pula ia diciduk BNN. RAS lalu buka mulut bahwa bos-bosnya di pengadilan yang memesan.

Saat dibuka, paket berisi 2 kemasan sabu-sabu dibungkus plastik klip bening dengan total berat 20,6 gram. Satu kemasan berisi kristal sabu putih, satu kemasan lain berisi kristal biru. Iya, kami tahu pikiranmu melayang ke mana. Kata BNN, mereka akan mendalami jaringan dari kasus ini.

Para pelaku kini terancam dijerat UU 35/2009 tentang Narkotika Pasal 114 ayat 2 dan/atau Pasal 112 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1, atau Pasal 112 ayat 2 dan/atau Pasal 127 ayat 1 juncto Pasal 132 ayat 1. Skema pertama adalah pasal perantara transaksi dan kepemilikan narkotika golongan I. Skema kedua memakai pasal kepemilikan narkotika golongan I dan hukuman penyalah guna narkotika.

Menanggapi skandal ini, Pengadilan Tinggi Banten sudah menyatakan sangat malu. Lembaga ini berencana akan menggelar tes urine rutin di lingkungan pengadilan. Pertanyaannya, rasa malu ini apakah akan tercermin pada sanksi etik kedua hakim tersebut?

Pasalnya, sejumlah kasus serupa di masa lalu menunjukkan, hakim yang menggunakan narkoba tak jarang mendapat vonis ringan. Contoh pertama adalah hakim PN Bekasi, Puji Wijayanto, yang pada 2012 silam tertangkap pesta sabu dan ekstasi di tempat karaoke bersama empat pemandu karaoke dan dua teman lelaki.

Ia hanya dihukum penjara 2 tahun dan diberhentikan dari jabatan hakim. Setelah bebas dari penjara, ia alih profesi jadi pengacara. Dua klien yang pernah ia bela: gembong narkotika Aceh dan pasangan pemilik biro umroh tipu-tipu First Travel.

Hukuman sepele juga diterima Herman Fadhillah A. Daulay, hakim PN Mandailing Natal. Di 2015 lalu, ia diberhentikan dengan hormat (tetap menerima pensiun) meski terbukti memakai narkoba dan berselingkuh. Ia digerebek sedang berpesta narkoba di sebuah tempat bersama teman-temannya. Selain sanksi etik ringan itu, tak ada catatan bahwa Herman disidang di pengadilan.

Majelis Kehormatan Hakim (MKH), lembaga kolaborasi MA dan Komisi Yudisial yang bertugas mengadili kasus-kasus etik hakim, memilih pemberhentian dengan hormat dengan alasan Herman bukan pengedar.

Kasus hakim PTUN Bengkulu, Pahala Shetya Lumbanbatu, juga demikian. Pada 2014 ia diberhentikan dengan hormat oleh MKH karena kasus narkotika, meski Komisi Yudisial merekomendasikan pemberhentian tak hormat. Namun, vonis yang sekilas ringan itu juga tak bisa diterima Pahala. Ia menyangkal jadi pemakai narkoba, lalu menggugat Komisi Yudisial ke PN Jakarta Pusat dengan nilai ganti rugi Rp1,004 triliun. Gugatan itu ditolak.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.