- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Perang Siber Rusia, Ahli Minta Hacker RI Tak Ikut Campur

ANALOGNEWS.id - Ahli keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha mengingatkan pemerintah Indonesia melalui Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk mengantisipasinya dalam situasi apapun termasuk menjaga sistem keamanan siber di Indonesia.
"Indonesia harus mendahulukan national interestnya jangan sampai terjebak dukung mendukung, yang pada akhirnya juga akan merugikan kita sendiri," katanya.
Melansir CNNIndonesia Rabu (2/3/2022), Pratama menjelaskan Indonesia bisa terkena dampak dari perang siber di Rusia oleh sekelompok hacker anonymous. Hal ini bisa terjadi jika hacker di Indonesia "latah" ikut meramaikan perang siber ke Rusia, sebab ini bisa memancing serangan balik ke infrastruktur digital di Indonesia.
Baca Lainnya :
- Akibat Perang Rusia-Ukraina, 5 Film Ini Tunda Tayang0
- Rangkaian Hari Raya Nyepi dan Maknanya0
- Polisi Mulai \"Membidik\" Doni Salmanan Bersama Dua Afiliator Binomo Lainnya 0
- Menunggu Proses Revisi, Tata Cara Pencairan JHT Dikembalikan ke Aturan Lama0
- Cabuli Murid SMP, Dosen di Balikpapan Divonis 8 Tahun Penjara0
"Ini bisa memancing berbagai pihak juga untuk ikut menyerang infrastruktur di tanah air," ujar Pratama.
Karena itu, menurut Pratama pemerintah Indonesia diminta melakukan pendekatan kepada kelompok peretas dalam negeri agar tidak ikut campur dalam proxy perang siber ke Rusia.
Dia mengatakan berbagai peretasan ke Rusia oleh sejumlah hacker sebagai wujud simpatik kepada Ukraina. Di satu ini aktivitas itu membahayakan sebuah sistem negara asal mereka.
"Karena serangan siber bisa dengan mudah dilakukan pengingkaran oleh entitas negara," tandasnya.
Sebelumnya Rusia mendapatkan perlawanan dari jagat maya menggunakan teknik Distributed Denial of Service (DDoS). Serangan itu menghasilkan banjir trefik 'bodong' pada sejumlah situs, sehingga tak bisa diakses.
Serangan siber itu datang dari kelompok hacker anonymous yang terus merusak sistem komputer di Rusia. Kelompok itu menargetkan kantor berita Rusia, media swasta lokal, sistem pemerintahan, lembaga keuangan dan fasilitas penting lain.
Namun peretas mengklaim tak akan mengganggu fasilitas yang berhubungan langsung dengan warga Rusia, seperti pembangkit tenaga listrik. Perang siber ini diharapkan bisa melemahkan Rusia di dunia maya.
Downdetector melaporkan banyak situs web di Rusia telah terganggu dan tidak bisa diakses. Kantor berita Rusia, Russia Today mengkonfirmasi situs serta situs Kremlin telah offline.
Terpisah, geng peretas ransomware Conti asal Rusia mengumumkan telah sepenuhnya mendukung pemerintah Rusia. Kelompok peretas itu juga menyebut akan balas dendam pada siapapun yang akan melakukan serangan siber ke Rusia.
"Tim Conti secara resmi mengumumkan dukungan penuh kepada pemerintah Rusia. Jika ada yang memutuskan untuk mengatur serangan siber atau aktivitas serangan apapun terhadap Rusia, kami akan menggunakan semua sumber daya kami untuk menyerang kembali infrastruktur penting musuh," ujar Conti menurut laporan Dark Tracer.
Sumber : CNNIndonesia










.jpg)
