- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Pembangunan Chinatown Samarinda Dinilai Perlu Libatkan Komunitas dan Rencana Ekonomi Jangka Panjang

Keterangan Gambar : Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Muhammad Andriansyah. (Foto : Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA - Rencana Pemkot Samarinda membangun kawasan wisata bertema Chinatown mendapat perhatian dari DPRD. Meski mendukung pengembangan sektor pariwisata, DPRD menekankan pentingnya konsep yang matang dan partisipasi aktif komunitas lokal, khususnya masyarakat Tionghoa.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Muhammad Andriansyah, menilai bahwa proyek seperti ini tidak boleh hanya menjadi pajangan simbolik tanpa nilai ekonomi dan budaya yang kuat.
“Kalau mau bangun Chinatown, harus jelas identitas budayanya, siapa pelaku utamanya, dan apa manfaat ekonominya bagi warga. Jangan sampai cuma jadi proyek tempelan,” ujar Aan sapaan akrabnya.
Ia menyoroti bahwa di berbagai kota lain, kawasan Chinatown tumbuh karena potensi komunitas yang memang sudah eksis dan diberdayakan, bukan semata-mata dibangun dari nol.
“Kekuatan Chinatown ada pada jati dirinya. Kalau cuma bentuk fisik tanpa kehidupan budaya dan ekonomi khas, daya tariknya lemah,” tambahnya.
Aan mendorong Pemkot untuk berdialog dengan komunitas Tionghoa, pelaku usaha, dan pegiat budaya guna merancang kawasan yang benar-benar hidup secara sosial dan ekonomis.
Menurutnya, pembangunan kawasan tematik seperti ini harus menjadi bagian dari strategi ekonomi jangka panjang, bukan sekadar proyek estetika.
“Kalau memang bisa menciptakan ruang usaha baru, mendatangkan wisatawan, dan menghidupkan UMKM, tentu kami dukung. Tapi harus berbasis konsep yang kuat dan realistis,” tegasnya.
Terakhir, ia menyebut bahwa Samarinda perlu mulai menggeser fokus ekonomi dari sektor ekstraktif ke sektor kreatif dan pariwisata. Kawasan seperti Chinatown bisa menjadi bagian dari transformasi tersebut, jika dibangun dengan fondasi yang tepat dan berkelanjutan. (ARD/Adv/DPRDSamarinda)










.jpg)
