- DKP3 Dorong Produktivitas Peternakan, Bantuan Kambing dan Pakan Difokuskan untuk Pengembangan Ternak
- DKP3 Libatkan Lintas OPD Susun FSVA 2026, Data Ketahanan Pangan Tiap Kelurahan Diverifikasi
- Libatkan Pelajar dalam Perintis Anti Narkoba, Wali Kota Bontang Pastian Pengurus Bebas Narkoba
- DKP3 Gandeng Universitas Brawijaya Kembangkan BONTAMI, Perkuat Hilirisasi Rumput Laut Bontang
- DP3AKB Bontang Sosialisasikan Aplikasi Si SAKA, Permudah Masyarakat Laporkan Dugaan Kekerasan
- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
Limbah Batu Bara Ancam Sungai Mahakam, Nelayan Jadi Korban

Keterangan Gambar : Ilustrasi Sungai Mahakam, Kaltim. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim), yang selama ini dikenal dengan kekayaan alam melimpah, kini harus menghadapi dampak serius dari aktivitas pertambangan batu bara. Pencemaran sungai akibat limbah tambang kian menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem perairan.
Muhammad Samsun, Anggota DPRD Kaltim, menyoroti bahwa limbah batu bara yang mencemari sungai merupakan akibat langsung dari proses pengupasan lahan dalam kegiatan pertambangan. Ia menegaskan bahwa dampak ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian masyarakat sekitar, khususnya para nelayan.
“Limbah batu bara ada karena pengupasan lahan. Dampaknya sangat besar, terutama bagi nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil laut,” ujar Samsun dengan nada prihatin.
Di wilayah yang ada tambang, keluhan nelayan terus bermunculan. Polusi sungai akibat limbah tambang telah menurunkan kualitas air, yang berimbas pada berkurangnya hasil tangkapan ikan. Kondisi ini membuat kehidupan nelayan semakin sulit, bahkan mengancam keberlangsungan pekerjaan mereka.
“Sungai yang tercemar membuat hasil tangkapan ikan menurun drastis. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang kelangsungan hidup masyarakat,” tegas Samsun.
Samsun menilai bahwa perusahaan tambang batu bara harus mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga lingkungan. Ia menekankan bahwa meski dampak lingkungan yang ditimbulkan mungkin tampak kecil, jika dibiarkan terus menerus, kerusakannya bisa menjadi ancaman besar di masa depan.
“Perusahaan tidak boleh hanya fokus pada keuntungan ekonomi. Mereka harus memperhatikan dampak aktivitasnya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar,” kata Samsun.
Ia juga menyerukan pemerintah daerah untuk memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap perusahaan tambang, memastikan bahwa praktik pertambangan dilakukan dengan meminimalkan dampak lingkungan.
Sebagai solusi, Samsun mendorong adanya sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Menurutnya, hanya dengan kerja sama yang solid, ancaman pencemaran lingkungan dapat diminimalisir.
“Kita harus bekerja sama untuk menjaga lingkungan. Kerusakan lebih parah akan merugikan semua pihak, terutama masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam,” jelasnya.
Samsun berharap, Kaltim sebagai daerah kaya sumber daya alam dapat menjadi contoh dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan yang tidak mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia optimistis bahwa dengan pengelolaan yang bijak, kekayaan alam Kaltim dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
“Harapannya, ada keseimbangan. Kita bisa memanfaatkan potensi alam tanpa merusak lingkungan, karena kelestarian alam adalah warisan yang harus kita jaga untuk generasi mendatang,” tutupnya. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
