- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Fahri Hamzah Sebut Pemerintah Harus Menanggung Biayai Partai Politik untuk Pemilu

Keterangan Gambar : Wakil Ketua Partai Gelora, Fahri Hamzah - int
ANALOGNEWS.id - Mantan Anggota DPR Fahri Hamzah menyebut pemerintah membiayai partai politik jika ingin proses demokrasi berjalan dengan baik.
Menurutnya, partai politik dan para kandidatnya harus difasilitasi oleh negara agar tidak ada oknum yang berkepentingan pribadi masuk dan membiayai partai politik.
"Keuangan Pemilu harus 100 persen dari negara. Partai politik itu dan para kandidatnya harus difasilitasi negara, sebab kalau tidak, itu nanti menyebabkan orang-orang yang punya banyak uang, menyelinap membiayai partai politik," ungkap Fahri dalam seminar daring Universitas Mercu Buana mengutip CNNIndonesia, Sabtu (18/6/2022).
Baca Lainnya :
- Berikut Cara Ubah Nama KTP Secara Online0
- Aksi 1706 Tuntut Indonesia Putus Hubungan Diplomatik dengan India 0
- Warga Buffer Zone Tuntut PT Pupuk Kaltim Terbuka Soal Aliran Dana CSR0
- Pria di Penajam Tewas Diterkam Buaya saat Menyelam Mencari Umpan 0
- Timsel Buka Pendaftaran Anggota Bawaslu Kaltim0
Wakil Ketua Umum Partai Gelora itu mengatakan, jika biaya politik ditanggung tiap individu, nantinya tokoh politik merasa harus mengembalikan modal yang ia keluarkan untuk jabatan tertentu. Terlebih, biaya politik di Indonesia tidak murah.
"Kalau dia sudah menganggap ini adalah biaya pribadi dia, maka yang terjadi berikutnya adalah dia mengatakan sekarang harus balik modal. Atau bohir-bohir [pemodal] yang membayar dia lalu kemudian ingin modalnya supaya dibalikin," Kata Fahri.
Fahri menilai, dampak dari fenomena politik itu berpotensi untuk menciptakan regulasi-regulasi yang tidak berpihak pada masyarakat.
"Ini yang secara halus atau kasar nampak pada hari-hari ini di depan mata kita," tuturnya.
Fahri juga menyebut fenomena ini sebagai ancaman bagi demokrasi Indonesia, karena semakin besar potensi transaksi dalam politik.
"Setiap upaya untuk memonetisasi pertarungan ide ini berbahaya, makanya harus ada keseriusan kita untuk membahas cara kita membiayai pemilu," papar Fahri.
"Ini adalah lingkaran setan yang harus kita putus melalui menyadari kembali bahwa demokrasi adalah pertarungan ide," katanya.
Diketahui, anggaran pemerintah untuk Pemilu 2024 telah disepakati dengan DPR di angka Rp76,6 triliun. Angka itu didapat setelah beberapa kali dilakukan revisi dari semula Rp86 triliun.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI Junimart Girsang pada pertengahan Mei lalu menyebut anggaran tersebut masih besar karena masih dalam masa transisi pandemi ke endemi serta terkait distribusi logistik penyelenggaraan Pemilu 2024. (*/An)










.jpg)
