- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
DPRD PPU Dukung Penuh Program Pangan Bergizi untuk Atasi Stunting

Keterangan Gambar : Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, Thohiron. (*)
ANALOGNEWS.id, PENAJAM - Dalam upaya mengatasi masalah stunting yang menjadi perhatian serius di Kabupaten Penajam Paser Utara, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, Thohiron, menyatakan dukungan penuh terhadap program pembagian pangan bergizi yang dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan Pangan (DKP) PPU.
Thohiron menyatakan bahwa program ini merupakan langkah strategis yang harus didukung semua pihak untuk menjamin kesehatan generasi masa depan.
“Program pembagian pangan bergizi ini sangat penting untuk memastikan balita di PPU mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. Dengan demikian, kita dapat mencegah terjadinya stunting yang berdampak buruk pada perkembangan fisik dan kognitif anak,” ujarnya.
Stunting masih menjadi tantangan kesehatan serius di PPU, seperti di banyak daerah lain di Indonesia. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi yang memadai dalam periode emas pertumbuhan anak, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan.
Thohiron menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami stunting tidak hanya terhambat pertumbuhannya tetapi juga berpotensi memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah dan kemampuan kognitif yang lebih rendah.
“Stunting adalah masalah yang sangat serius. Anak-anak yang mengalami stunting berisiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit kronis dan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang baik. Ini jelas mempengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan dan juga produktivitas sumber daya manusia di PPU,” kata Thohiron.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua, lembaga pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan, untuk turut berperan aktif dalam mendukung program ini. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta sangat diperlukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal dan efektif.
Thohiron juga menekankan pentingnya pendidikan dan sosialisasi mengenai pola makan sehat dan peran penting nutrisi dalam pertumbuhan anak.
“Selain pembagian pangan bergizi, edukasi kepada masyarakat, terutama para orang tua, tentang pentingnya gizi seimbang bagi balita juga perlu ditingkatkan. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat akan lebih sadar dan tergerak untuk mendukung program-program pencegahan stunting,” tambahnya. (Adv)










.jpg)
