- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
DPRD PPU Dorong Pelaku Usaha Konvensional Berinovasi Hadapi Dominasi Toko Online

Keterangan Gambar : Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, Syahruddin M Noor. (*)
ANALOGNEWS.id, PENAJAM - Perkembangan pesat toko online membawa tantangan baru bagi para pelaku usaha konvensional di Kabupaten Penajam Paser Utara. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, Syahruddin M Noor, menyatakan kekhawatirannya bahwa tanpa langkah strategis, usaha konvensional dapat tergeser oleh tren digital yang semakin mendominasi.
“Semua akan menggunakan digital device untuk transaksi bisnis. Kondisi inilah yang akan menggeser perdagangan konvensional. Karena komunikasi mereka tidak akan lancar kepada pelanggan, sehingga produk menjadi tidak fleksibel,” ujar Syahruddin.
Ia menyoroti bahwa pesatnya perkembangan teknologi membuat konsumen lebih mudah mencari dan membandingkan produk melalui internet. Hanya jika barang yang dicari tidak cocok, barulah mereka beralih ke pasar tradisional atau usaha konvensional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada metode bisnis tradisional saja tidak lagi cukup untuk menjaga kelangsungan usaha.
Sebagai solusi, Syahruddin mendorong pelaku usaha konvensional untuk mengadopsi pendekatan hybrid yang menggabungkan keunggulan bisnis offline dan online.
“Mau tidak mau, untuk mengimbangi permintaan pelanggan, pelaku usaha konvensional juga harus menggunakan cara online untuk memasarkan produknya. Kita tidak menyuruh pelaku usaha ini beralih sepenuhnya ke toko online, tetapi bagaimana membuat konsep baru di mana bisnis offline dan online berjalan berbarengan,” katanya.
Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan keunggulan kompetitif bagi usaha konvensional. Dengan memiliki keberadaan fisik yang nyata, konsumen lebih percaya untuk memesan barang secara online dari pelaku usaha yang juga memiliki toko fisik dengan alamat yang jelas.
“Ada kemenangannya sebenarnya, konsumen tidak ragu memesan barang dengan kita melalui online tersebut, sebab kita juga memiliki toko konvensional yang jelas alamatnya,” tutup Syahruddin. (Adv)










.jpg)
