- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Aturan Wajib Hijab Dicabut, Perempuan Arab Ramai Berambut Pendek
.jpg)
Keterangan Gambar : Aturan Wajib Hijab Dicabut, Perempuan Arab Ramai Berambut Pendek. (Ilustrasi)
ANALOGNEWS.id - Setelah pemakaian hijab tak lagi diwajibkan, para perempuan Saudi ramai-ramai memotong pendek rambut mereka. Hal ini menjadi tren baru dikalangan perempuan Arab Saudi.
Salah seorang dokter perempuan di sebuah rumah sakit di Ibu Kota Riyadh Safi, memutuskan untuk mengganti tampilannya dengan sangat dramatis. Dia memotong rambutnya yang panjang hingga sampai bagian leher.
Mengutip laporan AFP, potongan rambut pendek semakin populer di kalangan wanita pekerja di Saudi. Tren ini terlihat mencolok terutama di jalanan Riyadh, di mana banyak wanita yang memiliki gaya rambut pendek.
Baca Lainnya :
- Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Libatkan 2.325 TKA0
- Mabuk, Pemuda di Bontang Tikam Dua Orang di Jalan0
- DLH Bontang Pantau Kualitas Udara Ambien dengan Passive Sampler0
- Tekan Penumpukan Sampah di TPA, DLH Bontang Libatkan KSM Sortir Sampah 0
- Ditolak, Pria di Bontang Pukul Mantan Istri Hingga Pingsang Lalu Bawah Kabur Motor0
Hal tersebut terjadi setelah wanita Saudi tidak lagi diharuskan mengenakan hijab di bawah reformasi sosial yang didorong oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS), yang juga penguasa de-facto Saudi.
Seiring dengan meningkatnya jumlah pekerja wanita, banyak yang menggambarkan gaya rambut 'boy' sebagai alternatif yang praktis dan profesional dibandingkan gaya rambut panjang.
Bagi Safi, yang menggunakan nama samaran untuk melindungi identitasnya, potongan rambut pendek juga menjadi semacam perlindungan dari perhatian pria yang membuatnya risih. Dengan rambut pendek ini, Safi mengaku dia bisa lebih fokus pada pasien-pasiennya.
"Orang suka melihat feminitas dalam penampilan wanita. Gaya ini seperti perisai yang melindungi saya dari orang-orang dan memberi saya kekuatan," katanya.
Di salah satu salon di pusat kota Riyadh, permintaan untuk potongan boyish ini telah melonjak. Sekitar 7-8 dari 30 pelanggan meminta rambutnya dipotong pendek, kata Lamis, seorang penata rambut.
"Tampilan ini menjadi sangat populer sekarang. Permintaannya meningkat, terutama setelah perempuan memasuki pasar tenaga kerja," papar dia.
Banyak wanita pekerja yang menilai potongan gaya rambut bondol sebagai alat untuk menavigasi kehidupan profesional baru mereka.
"Saya seorang wanita yang praktis dan saya tidak punya waktu untuk merawat rambut saya," kata Abeer Mohammed, seorang ibu berusia 41 tahun yang memiliki bisnis toko pakaian pria.
"Rambut saya keriting, dan jika rambut saya tumbuh panjang, saya harus menghabiskan banyak waktu untuk merawatnya di pagi hari."
Arab Saudi secara tradisional melarang pria "meniru wanita" atau memakai pakaian wanita, dan sebaliknya. Tapi Rose, seorang pramuniaga sepatu berusia 29 tahun di Riyadh, memandang rambut pendeknya sebagai cara dia untuk menegaskan kemandiriannya dari pria, bukan meniru mereka.
"Rambut pendek memberi saya kekuatan dan kepercayaan diri... Saya merasa berbeda, dan mampu melakukan apa yang saya inginkan tanpa perwalian siapa pun," kata Rose yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya.
"Awalnya keluarga saya menolak tampilan ini, tapi lama kelamaan mereka terbiasa," tambahnya.
Dicabutnya kewajiban memakai jilbab hanyalah satu dari banyak perubahan yang memberikan kebebasan kepada wanita Saudi di bawah kepemimpinan Pangeran Mohammed.
Wanita Saudi tidak lagi dilarang menonton konser dan acara olahraga. Pada 2018 lalu, mereka juga mendapatkan hak untuk mengemudi kendaraan sendiri.
Kerajaan Saudi juga telah melonggarkan aturan perwalian, yang berarti perempuan sekarang dapat memperoleh paspor dan bepergian ke luar negeri tanpa izin kerabat laki-laki.
Semua kebijakan baru tersebut merupakan rencana reformasi Visi 2030 Pangeran Mohammed untuk membuat Arab Saudi yang tidak terlalu bergantung pada minyak.
Rencana tersebut awalnya menyerukan agar perempuan berkontribusi 30 persen dari angkatan kerja pada akhir dekade ini, tetapi angka itu sudah mencapai 36 persen, kata asisten menteri pariwisata Putri Haifa Al-Saud, saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos bulan lalu. (*/An)










.jpg)
