- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Dugong Punah, Ini Dampaknya Terhadap Bumi dan Manusia
.jpg)
Keterangan Gambar : Foto: AFP via Getty Images/SIRACHAI ARUNRUGSTICHAI
ANALOGNEWS.id -Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Jurnal Royal Society Open Science melaporkan kepunahan mamalia laut jenis dugong di China.
Berdasarkan hasil survei selama 5 tahun terakhir, hanya 3 orang dari komunitas pesisir di China yang melihat dugong. Kepunahan dugong dikaitkan dengan perilaku satwa tersebut yang cenderung lambat dan santai. Ini membuatnya rentan terhadap penangkapan ikan dan kecelakaan pelayaran.
Mengutip BBC, tak cuma dugong di China, peneliti mengatakan ancaman serupa juga mengintai dugong-dugong di tempat lain. Sementara itu, Prof Samuel Turvey dari Zoological Society of London (ZSL) mengatakan hilangnya dugong di China sebagai kerugian yang akan menghancurkan.
Baca Lainnya :
- Perusahaan Tambang China yang Beroperasi di Indonesia0
- Ubur-ubur Super Langkah Terekam Pertama Kalinya di Papua0
- Cristiano Ronaldo Bakal ke Bayern Munchen 0
- Diajak Totti Gabung Roma, Begini Respon Dybala0
- AC Milan Juara Liga Italia, Begini Reaksi Donnarumma0
Para ilmuwan di ZSL dan Chinese Academy of Science juga sudah meninjau semua data sejarah di mana dugong sebelumnya ditemukan di China. Data menunjukkan, tidak ada penampakan yang diverifikasi oleh para ilmuwan sejak tahun 2000.
Para ahli juga melakukan wawancara pada 788 warga yang tinggal di wilayah pesisir yang diidentifikasi sebagai tempat tinggal dugong. Mereka ingin tahu kapan tepatnya dugong terakhir kali terlihat. Rata-rata warga melaporkan sudah tidak pernah melihat dugong selama 23 tahun. Hanya tiga orang yang melihat satu dalam 5 tahun terakhir. Itulah yang membuat para peneliti menyatakan dugong sudah punah secara fungsional.
Dugong sering diburu sejak abad ke-20. Banyak yang mengincar satwa laut ini untuk diambil kulit, tulang, dan dagingnya. Selain itu, rusaknya habitat dugong juga memicu lenyapnya satwa ini di China.
Ketika spesies itu punah, dugong hilang dari rantai makanan. Hewan yang dahulu memangsa dugong harus mencari sumber makanan baru kalau tidak mau kelaparan. Hal ini dapat merusak populasi tumbuhan atau satwa laut lainnya. Tidak hanya itu, jika pemangsa punah, populasi mangsanya dapat berkembang biak sehingga membuat ekosistem lokal tidak seimbang.
Manusia pada dasarnya berbagi ekosistem dengan spesies yang terancam punah. Itu berarti bahwa ketika populasi suatu spesies berkurang, kehidupan manusia juga ikut terpengaruh. Misalnya, ketika Bison Amerika mulai menghilang, manusia yang biasa mengonsumsi bison untuk makanan akan ikut menderita dan harus bergantung kepada sumber makanan lain.
Karena itu, Prof Turvey mengatakan kepunahan dugong di China harus menjadi peringatan bagi daerah lain termasuk Australia dan Afrika Timur. "Ini menjadi pengingat serius bahwa kepunahan dapat terjadi sebelum tindakan konservasi yang efektif dikembangkan," kata dia.
Dugong sendiri merupakan satwa yang unik. Ia memiliki berat hampir setengah ton. Dugong juga satu-satunya mamalia laut yang vegetarian.
Seperti telah diulas di atas, dugong memiliki sifat yang lembut dan tampak jinak. Sifat inilah yang mengilhami munculnya kisah pelaut kuno tentang putri duyung.
Sebelum dinyatakan punah, dugong dapat ditemukan di 37 wilayah tropis di dunia, khususnya di perairan dangkal di Samudra Hindia dan Pasifik bagian barat. (CNBC/red)










.jpg)
