- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Lebih Banyak Lulusan SD Ketimbang Kuota Penerimaan SMP, Begini Tanggapan Anggota DPRD Samarinda
.jpg)
Keterangan Gambar : Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Muhammad Novan Syahronni Pasie. (Foto : ARD)
ANALOGNEWS.id, Samarinda - Menjelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2025-2026 mendatang, Kota Samarinda mengalami beberapa tantangan, di antaranya penambahan bangunan untuk ruang belajar yang dinilai sangat penting. Sebab, jumlah lulusan SD lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kuota yang dibutuhkan oleh SMP.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Muhammad Novan Syahronni Pasie merespon hal ini, dia mengaku khawatir jika kondisi seperti ini terus-terusan terjadi.
Pria yang akrab disapa Novan ini juga mempertanyakan kesiapan sistem SPMB, khususnya terkait keterbatasan kapasitas sekolah negeri yang ada di Kota Tepian. Terlebih, lulusan SD setiap tahunnya terus bertambah, bahkan mencapai 10 ribu calon pendaftar ke tingkat SMP.
“Sementara, sekolah negeri tingkat SMP hanya mampu menampung sekitar 9 ribu lebih. Sehingga masih ada sekitar 800 siswa yang belum terakomodir,” terang Novan.
Dia bilang kondisi ini harus menjadi perhatian semua pihak, sebab berkaitan dengan sistem pendidikan di Samarinda yang akan memberi pengaruh terhadap geerasi penerus. Maka itu, ia mendorong pemerataan distribusi siswa agar tidak terjadi penumpukan di sekolah tertentu saja.
“Ini juga menjadi perhatian kita, karena masih banyak yang belum terakomodir,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda juga di awal tahun mata pelajaran 2025-2026 nanti, tidak lagi membebankan murid untuk membeli buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Sebab, Pemkot akan mencetak langsung LKS untuk mengurangi beban yang ditanggung orang tua.
Terlebih, sistemnya nanti by name by address, sehingga kebutuhan buku akan disesuaikan dengan jumlah murid.
“Kita akan maksimalkan menggunakan dana BOSNAS untuk membiayai kebutuhan buku wajib itu,” tandasnya. (ARD/Adv/DPRDSamarinda)










.jpg)
